Duh, Ngeri Banget Nih, Tangan Bocah Hancur Lantaran Petasan yang Dipegang Meledak

 Duh, Ngeri Banget Nih, Tangan Bocah Hancur Lantaran Petasan yang Dipegang Meledak
 Duh, Ngeri Banget Nih, Tangan Bocah Hancur Lantaran Petasan yang Dipegang Meledak


Hampir saban tahun tiap Ramadan tiba, ada saja kabar mengenai korban ledakan petasan.
Seolah tak ada habisnya dan sulit untuk diberantas, petasan terus beredar di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan anak-anak.
Karena kurang hati-hati saat bermain petasan, tak sedikit yang menjadi korban.
Seperti yang dialami seorang bocah satu ini.
Karena sembarangan main petasan, tangan bocah berinisial MSR itu hancur.
Jari dan telapak tangan warga asal Tembelang, Kabupaten Jombang ini mengalami luka serius.
Kasat Reskrim Polres Jombang AKP Teguh Setiawan membenarkan bahwa tangan MSR luka parah. 
Pergelangan tangan kanan, yang juga mengalami luka serius.
"Kabar terakhir, korban masih diisolasi. Masih belum bisa dilakukan operasi," ungkap Teguh di Polres Jombang, Selasa (4/5/2021).
Kronologi
Kejadian itu bermula saat korban MRS penasaran karena petasan yang disulut tidak meledak, Minggu (2/5/2021) pagi.
Awalnya, MRS dan tiga temannya membeli satu paket petasan berukuran cabe.
Setelah itu dirangkai menjadi tiga petasan berukuran lebih besar.
Petasan hasil rakitan itu kemudian disulut di area persawahan Desa Sentul, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang.
Dari tiga petasan hasil rakitan, satu di antaranya gagal meledak.
MRS pun penasaran karena tidak bunyi.
Lantas korban mengecek petasan yang tidak meledak tersebut, meski sudah diingatkan dan diajak pergi oleh teman-temannya.
Begitu ketiga temannya beranjak meninggalkan lokasi, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari belakang mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka menemukan MRS dengan kondisi terluka pada bagian tangan akibat terkena ledakan petasan.
Penjual petasan diringkus
Pasca-ledakan petasan yang menyebabkan korban terluka, polisi melakukan olah TKP dan memeriksa beberapa saksi mata.
Teguh menjelaskan, berdasarkan hasil penyelidikan, pihaknya berhasil mengidentifikasi dari mana MRS dan teman-temannya membeli petasan.
"Korban dan teman-temannya membeli petasan di Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh," kata Teguh.
Setelah mengetahui identitas penjual petasan tempat MRS dan ketiga membeli, polisi kemudian meringkus MCA (Moch. Choirul Anwar).
Penjual petasan itu diringkus polisi di rumahnya, di Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Minggu (2/5/2021) malam.
"Tersangka kita jerat dengan pasal 1 ayat 1 Undang-undang Darurat, Nomor 12 tahun 1951," ujar Teguh.
Dia menambahkan, selain meringkus MCA, dalam sepekan terakhir pihaknya juga meringkus 2 orang lainnya terkait peredaran dan jual beli petasan, di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Ledakan Blanggur di Ponorogo
Kakak beradik yang tengah membikin mercon raksasa (blanggur) untuk persiapan lapdem yang akan diterbangkan dengan balon udara saat Idul Fitri mendatang tewas mengenaskan.
Korban yang tewas adalah Sunardi (23) dan Samuri (21) keduanya asal Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Rabu (28/4/2021).
Sunardi yang tewas seketika kondisinya sangat mengenaskan. Tubuhnya mengalami luka bakar.
Bagian kaki mulai paha ke bawah putus karena di saat mercon meledak diduga tengah mengapit menggunakan kedua pahanya.
100 meter dari lokasi kejadian/ledakan.
Hingga kini bagian tubuh Sunardi belum ditemukan secara utuh.
Sementara korban Samuri tubuhnya juga mengalami luka bakar dan terlempar sejauh 5 meter.
Ia ditemukan di atap rumah sebelah TKP, kondisinya masih hidup dan langsung di larikan ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan korban meninggal dunia.
Dalam tragedi tragis itu, tak hanya merenggut nyawa dua bersaudara. Namun rumah yang dipakai meracik mesiu mercon juga berantakan.
Rumah Rusak Parah
 Kapolsek Sukorejo, AKP Beny Hartono yang datang ke TKP, menjelaskan rumah sumber ledakan kondisinya rusak parah.
Tembok lantai dua rumah jebol, genting atap pecah bahkan galvalum bagian murah berhamburan di sekeliling rumah.
"Lampunya mati, bagian atap hancur, tembok retak, dan jebol di beberapa bagian dan dak beton lantai II jebol," kata AKP Beny, Rabu (28/4/2021).
Ketika olah TKP berlangsung, di bagian belakang rumah, petugas menemukan korban meninggal dunia di bawah pohon pisang dengan luka bakar di sekujur tubuh dan kaki putus.
"Korban yang lain ditemukan di atap rumah sebelah TKP, kondisinya masih hidup dan langsung di larikan ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan korban juga meninggal dunia," lanjutnya.
Dari pemeriksaan awal, Beny menduga korban meninggal dunia karena terkena ledakan mercon.
Karena keadaan malam hari, dan penerangan minim serta di khawatirkan rumah ambruk, pihak kepolisian memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan, Rabu (28/4/2021).
Menurut kesaksian tetangga, ledakan mercon Poorogo itu terdengar hingga 3 km. Ada juga yang mengungkapkan, kakak adik Sunardi dan Samuri (21) itu membuat menggunakan mesin.
Untuk ukurannya pun lebih besar dari tahun lalu. Diperkirakan berat mesiunya saja mencapai 5 kg.
Rencananya, mercon itu nantinya akan dipasang di balon udara di saat Idul Fitri 2021 tiba.
Suara ledakan terdengar hingga 3 km
Sementara itu, warga sekitar, Erna Aminin (31) mengaku mendengar ledakan tersebut sekitar pukul 22.00 WIB.
"Terdengar pada malam hari saat mau tidur, ternyata pagi hari saya dapat kabar kalau ada ledakan itu," terang Erna.
Erna memperkirakan jarak rumahnya dengan ledakan sekira 3 km.
Diaduk Pakai Mesin
Menurut saksi mata, Toro (24) kedua korban sedang meracik petasan yang rencananya akan dipasang di balon udara dan diterbangkan saat Idul Fitri 1442 H nanti.
Adik kakak itu memang pernah meracik sendiri petasan, namun tidak sebesar tahun ini.
"Saking banyaknya, kalau biasanya pakai tangan, ini mengaduknya pakai mesin," kata Toro, Rabu (28/4/2021).
Toro menduga, karena hal tersebut, petasan yang diracik tetangganya itu meledak di dalam rumah.
Saat ledakan terjadi, Toro spontan lari keluar rumah dan melihat ada api yang membumbung tinggi.
Ia langsung lari ke rumah tersebut dan mendapati korban sudah tergeletak.
"Kondisi rumahnya hancur, dua rumah sampingannya juga terdampak, kacanya sampai pecah," jelas Toro.
Kapolsek Sukorejo AKP Beny Hartono memastikan ledakan yang terjadi buja berasal dari LPG yang dimodifikasi menjadi petasan.
Itu untuk meluruskan banyaknya kabar yang viral di media sosial bahwa ledakan berasal dari tabung LPG yang dimodifikasi.
"Untuk sementara kami tidak menemukan tabung LPG di TKP," jelas Beny.
Bubuk Mesiu Diamankan
Kapolres Ponorogo, AKBP Mochamad Nur Azis mendatangi rumah yang menjadi tempat meledaknya petasan hingga merenggut nyawa kakak beradik.
Begitu tiba di rumah yang berada di dusun Ngasinan, Desa/Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, Azis langsung memimpin olah TKP.
Hasilnya, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, mulai dari bubuk mesiu, bahan-bahan kimia cair, hingga selongsong petasan dari kertas yang masih kosong.
Polres Ponorogo juga menyita puluhan meter gulungan plastik yang diduga akan dijadikan balon udara serta daun kelapa kering yang akan digunakan untuk menerbangkan balon dengan cara membakarnya.
"Dengan barang bukti yang ada diperkirakan (petasan) ini akan dipasang di balon udara," kata Azis, Rabu (28/4/2021).
AKBP Azis juga menerangkan, Tim Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya akan datang langsung ke Ponorogo untuk melakukan otopsi dua korban yaitu Sunardi (23) dan Samuri (21) di RSUD Dr Harjono Ponorogo.
"Ledakannya cukup besar juga karena terdengar sampai 7 Km," lanjutnya.
Kapolres menjelaskan, ledakan tersebut terjadi karena gesekan antara alat yang digunakan untuk mengaduk dengan mesiu.
"Mungkin karena gesekan itu menjadi panas atau timbul percikan api sehingga bisa meledak," terang Azis.
Bagian tubuh hancur, ditemukan 100 meter dari lokasi.
Tubuh Sunardi (23) korban ledakan petasan di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo tak lagi utuh.
Menurut Kapolres Ponorogo, AKBP Mochamad Nur Azis, bagian yang terpisah dari tubuh utama dan hancur adalah bagian kaki korban.
"Jadi hancur, putus kakinya, mulai dari paha (ke bawah)," kata Azis, Rabu (28/4/2021).
Azis menduga, saat meracik petasan tersebut Sunardi mengapitnya dengan kaki.
"Saat diapit itu meledak akibat gesekan mesin dengan tempat mengaduk atau panas yang dihasilkan mesin," lanjutnya.
Potongan tubuh Sunardi pun hancur dan terlempar ke segala arah.
Saat olah TKP, polisi sudah menemukan sebagian tubuh tersebut dan sudah dijadikan satu dengan tubuh utamanya.
"Ada yang ditemukan di belakang rumah ada juga yang ditemukan masyarakat. Jarak ditemukannya dari rumah korban perkiraan sekitar 100 meter," jelas kapolres.
Walaupun beberapa bagian sudah ditemukan, menurut Azis, akan sulit melengkapkan bagian tubuh korban yang hilang.
"Mungkin tidak bisa selengkap sedia kala karena kakinya hancur. Kami juga minta masyarakat sekitar kalau menemukan kita jadikan satu," terang Azis.
Untuk korban kedua, yaitu Samuri, bagian tubuhnya masih lengkap.
"Kami mengimbau dengan kejadian ini masyarakat bisa jera dan tidak membuat balon udara karena efeknya bisa gini juga," terangnya.
Hingga kini, Polres Ponorogo telah mengumpulkan keterangan dari 4 orang untuk menggali keterangan lebih dalam.
Mantan TKI Korea
Kematian Sunardi (23) dan Samuri (21) korban ledakan petasan di Desa/Kecamatan Sukorejo membawa duka yang mendalam.
Menurut Kapolsek Sukorejo, AKP Beny Hartono, kedua orang tua korban sangat merasa kehilangan dengan meninggalnya dua korban kakak beradik tersebut.
"Orang tua (ibu) belum bisa menerima, kalau bapaknya tadi (saat olah TKP) masih tidur. Selain lemas memang semalam habis meledak itu ikut begadang juga," kata Beny, Rabu (28/4/2021).
Kedua korban sendiri dikenal sebagai sosok yang baik dan supel dengan tetangga.
"Korban ya baik saja, dengan pemuda sekitar juga baik. Tidak ada catatan (kriminal)," lanjutnya.
Sunardi sendiri merupakan mantan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang setahun lalu sudah pulang dari Korea.
"Kalau adiknya di rumah saja, bukan TKI," terang Beny.
Kedua korban diketahui juga belum berumah tangga alias masih bujang.
Atas kejadian ini, Beny meminta masyarakat agar tidak ikut-ikutan membuat balon udara dan petasan.
"Imbauan kita tidak ada hentinya setiap saat sejak awal puasa, patroli juga sudah sering," kata Beny.
Masyarakat Kecamatan Sukorejo, lanjut Beny memang punya tradisi membuat balon udara dan petasan jelang Idul Fitri 2021.
Begitu pun juga di lingkungan korban yang remajanya memang berencana membuat hal serupa.
"Rencana bikin iuran memang sudah ada, tapi yang meracik (petasan) dua orang itu saja," jelas Beny.
Sedangkan pemuda yang lain mempunyai tugas masing-masing, seperti membuat balon udara.
"Balon udara yang kita sita juga dari rumah lain, sudah digunting-gunting tinggal dilakban," terangnya.
"Ke depan kita meminta kerja sama masyarakat kalau ada yang membuat petasan diingatkan atau bisa melaporkan langsung ke Polsek," jelasnya. (Sofyan Arif Candra Sakti)





Sumber Artikel:
Advertisement