Subhanallah Penjual Kerupuk Naik Haji, Menunggu 28 Tahun untuk Wujudkan Wasiat Bapak

Subhanallah Penjual Kerupuk Naik Haji, Menunggu 28 Tahun untuk Wujudkan Wasiat Bapak
Subhanallah Penjual Kerupuk Naik Haji, Menunggu 28 Tahun untuk Wujudkan Wasiat Bapak


 Bukunewscheck – (kompas.com) – Tri Darini (53), penjual kerupuk asal Dukuh Kenangan, Desa Sribit, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah akan menunaikan ibadah haji tahun ini. Perempuan kelahiran 1 Maret 1966 itu berhasil mewujudkan impiannya setelah menabung selama 28 tahun dari hasilnya berjualan kerupuk. Berikut 5 fakta dari Tri Darini yang berhasil mewujudkan mimpinya untuk naik haji:

 1. Mulai bekerja dini hari

Aktivitas Tri dimulai 03.00 WIB. Saat langit masih gelap dia harus bangun untuk memasak dan menyiapkan barang dagangannya. Pada pukul 05.30 WIB dia berangkat jualan menggunakan ontel dan pulang sekitar pukul 09.30 WIB. Kerupuk yang dia jajakan diletakkan di boncengan sepeda kayuhnya. Pekerjaan itu sudah Tri Darini geluti  sejak 30 tahun, sebelum dia menikah dengan Teguh Waluyo (53). Kerupuk yang dijajakannya bukan hasil buatannya sendiri, tetapi dia mengambil dari produsen. “Saya ini orangnya tidak bisa diam, jadi sejak muda memang sukanya bekerja,” tuturnya. Baca juga: Kumpulkan Uang Rp 5.000 Selama 28 Tahun, Penjual Kerupuk Ini Naik Haji

2. Menabung Rp 5000 setiap hari selama 28 tahun

Sejak menikah 28 tahun lalu, Tri mengaku selalu menyisihkan uang sebesar Rp 5.000 setiap hari dari hasil jualan. “Tiap hari saya mengumpulkan uang Rp 5000. Setelah sebulan terkumpul uangnya saya bawa ke bank untuk ditabung,” kata Darini ditemui Kompas.com di rumahnya, Jumat (5/7/2019). Setelah uangnya terkumpul hingga Rp 25 juta, Tri memberanikan diri mendaftar agar bisa berangkat haji pada 2011 lalu. Dia terus melanjutkan kebiasaannya menabung untuk melunasi biaya haji sebesar Rp 36 juta per orang.

3. Menunggu antrean selama 8 tahun

Tri mendaftar haji pada tahun 2011 dan baru mendapatkan kepastian keberangkatan pada tahun 2019. Tri Darini tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 10 gelombang pertama dari Kabupaten Klaten dan akan terbang ke Mekah pada 9 Juli 2019 melalui Embarkasi Haji Surakarta. “Alhamdulillah tahun ini saya bisa berangkat naik haji,” ujar ibu dua anak. Untuk biaya haji, Tri menabung selama 28 tahun dari hasil berjualan kerupuk.

4. Wasiat ayah

Selain jadi cita-cita,Tri mengaku ibadah haji yang dilakukannya merupakan wasiat almarhum ayahnya. Dia bercerita jika ayahnya berpesan agar dirinya bisa menunaikan rukun Islam kelima, karena lima saudaranya sudah melaksanakan ibadah haji. “Saya anak ketiga dari enam bersaudara. Saudara saya semua sudah naik haji. Bapak saya pesan agar saya juga naik haji,” katanya. Untuk mewujudkan wasiat ayahya, Tri menabung selama 28 tahun dari hasi jualan kerupuk yang dilakoninya setiap hari.

5. Sementara berhenti jualan

Mendekati keberangkatan ibadah haji, Tri mengaku berhenti sementara berjualan kerupuk. Dia akan fokus untuk mempersiapkan keberangkatannya yang tinggal beberapa hari lagi. “Saya bilang ke pelanggan dan mereka mendoakan saya,” paparnya. Dia berharap agar keberangkatan dan selama di Tanah Suci hingga pulang Tanah Air berjalan lancar. “Saya sering lihat gambar ka’bah di televisi maka tambah ingin ke sana,” ujar dia. (sumber : kompas.com)

Advertisement