Santri Pondok Pesantren Tuna Rungu ini Semangat Menghafal Alquran dengan Bahasa Isyarat

Santri Pondok Pesantren Tuna Rungu ini Semangat Menghafal Alquran dengan Bahasa Isyarat
Santri Pondok Pesantren Tuna Rungu ini Semangat Menghafal Alquran dengan Bahasa Isyarat


 bukunewscheck – Ghirah menghafal Alquran bermunculan di mana-mana. Tak peduli kondisi, banyak orang terpanggil untuk menjadi hafizh kalam ilahi. Pandemi atau tidak, dalam kondisi ekonomi membaik atau sebaliknya, para penghafal Alquran terus lahir. Mereka menyuarakan keindahan wahyu dan menjelaskan kandungannya kepada masyarakat.

Semangat menghafal Alquran mengalahkan segala keterbatasan. Kondisi fisik yang terbatas karena difabilitas misalkan, sama sekali tidak membuat seseorang pesimistis untuk menjadi huffazh.    

Lihat saja di Pondok Pesantren Tunarungu Darul A’shom, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di sana, para santri dan santriwatinya tekun menghafal Alquran menggunakan bahasa isyarat.

Hingga saat ini, ada 47 hafiz Alquran di pesantren yang awalnya berlokasi di Srandakan, Bantul. Sebanyak 47 hafiz Alquran itu terdiri atas 37 santri dan 10 santriwati.

“Mereka dari berbagai daerah di Indonesia. Ada dari Medan, Bali, Kalimantan, Yogya, Jateng, dan ada dua santri dari Malaysia. Tapi, karena kendala perizinan, jadi kami tunda dulu untuk penerimaan,” kata Kepala Yayasan Pondok Pesantren Tunarungu Darul A’shom,

Metode pembelajaran di pesantren ini dikembangkan oleh Ustaz Abu Kahfi, yang saat ini merupakan pimpinan pesantren tersebut. Sebelumnya, Ustaz Abu Kahfi mengembangkan majelis difabel rungu khusus untuk usia dewasa di Bandung.

Ustaz Abu Kahfi, menurut Bayu, mempelajari konsep pembelajaran difabel rungu di salah satu pusat tahfiz Alquran khusus difabel rungu di Makkah, Arab Saudi. Hal itu dilakukan kala Ustaz Abu Kahfi menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci.

Usai menunaikan ibadah umrah, dia tergerak mengembangkan Pondok Pesantren Tunarungu Darul A’shom. Namun, para santri dan santriwati di pesantren yang berdiri pada 19 September 2019 ini tidak hanya usia dewasa, tapi juga anak-anak. Harapannya, para santri berkebutuhan khusus ini bisa mendapat bekal ilmu agama sejak dini.

“Dimulai dari usia dini insya Allah mereka paham syariat Islam dan pengetahuan agama yang lebih dalam sejak kecil,” ujarnya.

Diakui Bayu, membutuhkan waktu dan usaha yang lebih untuk membantu santri dan santriwati berkebutuhan khusus untuk menghafal Alquran. Dalam menghafal Alquran, huruf Hijaiyah diisyaratkan huruf demi huruf.

Ia menyebut, perbandingannya dengan orang biasa bisa mencapai 3:7. Ia mencontohkan, dalam mengajarkan Bismillah yang penyebutannya hanya membutuhkan suku kata. Namun, santri dan santriwati di pondok pesantren tersebut harus mengeja satu per satu huruf Hijaiyah. Dalam kata Bismillah, ada tujuh huruf Hijaiyah yang harus diisyaratkan satu per satu.

“Mereka menghafal Alquran perbandingannya 3:7. Sebanyak 30 juz, misalnya, orang umum bisa dikalikan tujuh untuk anak-anak di sini, mereka menghafalnya per huruf,” kata Bayu.

Walaupun begitu, para santri dan santriwati di pesantren ini dapat menjadi hafiz Alquran dengan kekurangan yang mereka miliki. Salah satunya Jaid yang berasal dari Kediri, Jawa Timur.

Jaid sudah satu tahun menimba ilmu di Pondok Pesantren Tunarungu Darul A’shom. Hingga saat ini, dia sudah bisa menghafal dua juz Alquran.

“Ada juga Azka yang berumur sembilan tahun dari Solo. Azka sudah menghafal 1,5 juz dan mau masuk dua juz,” kata Bayu bangga.

Terkait kurikulum di pesantren ini, Bayu mengatakan, kurikulum dirancang secara mandiri, dengan ilmu agama seperti ilmu tauhid dan tahfiz sebagai program utama. Namun, pembelajaran nonformal juga diajarkan yang bersinergi dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

“Jadi, sistemnya dari PKBM memberikan modul pembelajaran dan nanti ustaz serta ustazah yang akan mengajarkan ke santri,” jelasnya.

Untuk pembagian kelas, santri dan santriwati dikelompokkan berdasarkan kemampuan. Mereka tidak dikelompokkan berdasarkan usia atau jenjang pendidikan yang sudah dilalui sebelumnya.

“Kami membagi klaster-klaster kelompok kecil berdasarkan kemampuan mereka dalam menangkap materi. Setting yang seperti ini akan membuat mereka tidak merasa bahwa mereka tertekan.’’ (sumber : republika.co.id )

Advertisement